Catatan Tentang Ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”

Sebenarnya, sudah lama kalimat ini menggelitik dalam pikiran saya. Tentang susunan kalimatnya, tentang makna yang terkandung di dalamnya, begitupun tentang kebiasaan orang dalam melafalkan dan menuliskannya. Dan sebenarnya, juga tentang asal usul kalimat ini, sekaligus hukum melafalkannya sebagai ucapan idul fithri. Namun, sementara saya hanya ingin mengritisi dari sudut pandang bahasa. Sedikit catatan saya ini mudah-mudahan bisa memberikan tambahan wawasan teman-teman seputar kalimat ini.

Pertama, tentang lafal dan tulisan. Ada beberapa ungkapan yang sudah populer namun tidak pas dalam melafalkan kalimat ini. Seperti: minal aidzin wal faidzin, minal aizin wal faidzin, atau minal aizin wal faizin. Padahal dalam bahasa aslinya, teksnya berbunyi:

مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَ اْلفاَئِزِيْنَ

Yang jika ditransliterasikan ke dalam bhs indonesia sekurang-kurangnya berbunyi “Minal ‘aidin wal Faizin”.

Kedua, dari susunan kalimatnya. Dhahir kalimat tersebut tidak menunjukkan sebagai jumlah mufiidah (kalimat sempurna) yang setidaknya memenuhi unsur Mubtada’ dan Khabar jika jumlah ismiyah (kalimat yang diawali dengan kata benda), atau fi’il dan fa’il jika berupa jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja).

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Khuthbah iedul Fithri: Melestarikan Kebaikan Pasca Ramadhan

Jamaah shalat iedul Fithri rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, atas segala nikmat-Nya kita berkumpul untuk mengabdi kepada-Nya. Kita pantas gembira dan bersyukur, karena Allah menguatkan kita untuk menyelesaikan tugas selama ramadhan. Namun, di sisi lain kita pantas bersedih, karena telah lewat kesempatan emas dan peluang yang sangat menentukan baik buruknya catatan amal perbuatan kita di tahun ini.

Memang kita berharap, dengan shaum dan shalat malam di bulan Ramadhan, Allah mengampuni semua dosa kita yang telah lalu. Akan tetapi, adalah salah jika kita mengklaim diri telah bersih dari dosa.

فَلاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS an-Najm 32)

Para salafus shalih pendahulu kita, tak ada yang mengaku telah bersih dan suci dari dosa setiap kali keluar dari Ramadhan. Padahal amal kebaikan mereka lebih banyak dari amal shalih kita, keburukan yang mereka lakukan jauh lebih minim dari keburukan yang kita lakukan. Merekapun lebih banyak istighfar kepada Allah dari pada kita. Akan tetapi, mereka sangat khawatir, jikalau amal mereka tidak diterima oleh Allah. Karenanya, mereka terus berusaha mengoptimalkan seluruh potensi dan waktunya untuk berbuat kebaikan. Meskipun Ramadhan telah meninggalkan mereka. Inilah karakter orang-orang yang berlomba dalam kebaikan.

Aisyah pernah bertanya kepada Nabi tentang firman Allah,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka,” (QS al-Mukminun 60)

Aisyah bertanya, “Apakah mereka itu adalah orang yang minum khamr, mencuri dan berzina?” Yakni apakah mereka takut karena telah melakukan dosa-dosa?

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bukan wahai puteri ash-Shiddiq, bahkan mereka adalah orang-orang yang shaum, shalat, bersedekah, akan tetapi mereka takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Merekalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan,”

Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS al-Mukminun 61)

Seringkali kita terbuai dengan istilah ‘Iedul Fithri’ yang diartikan kembali suci. Lalu kita merasa puas dengan apa yang kita kerjakan dan merasa sudah tidak memiliki dosa lagi. Asumsi ini juga memberi peluang untuk melakukan dosa-dosa, karena toh nantinya terhapus otomatis dengan hadirnya ‘iedul fithri.’

Memaknai iedul fithri dengan kembali suci, perlu diteliti keabsahannya. Nabi saw mengartikan hari fihtri dengan hari berbuka. Sebagaimana hadits Nabi saw,

أَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ

“Adapun hari fithri adalah hari berbuka dari shaum kalian.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan yang lain)

Tidak tepat jika kata fithri dalam hadits tersebut diartikan suci, sehingga artinya, “Adapun hari suci adalah, hari suci kalian dari shaum.”

Jama’ah iedul fithri arsyadakumullah.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mencari Tempat Sujud di Masjidil Haram

Mungkin judul ini agak aneh, apa istimewanya mencari tempat sujud di sana? Bukankah memang Masjidil Haram adalah tempat sujud?

Jika Anda ditakdirkan Allah bisa mengunjunginya (Semoga Allah memudahkannya untuk Anda), niscaya akan Anda rasakan, betapa tidak mudah mendapatkan tempat sujud di sana. Karena Anda harus berjuang keras untuk memperebutkan tempat itu.

Bahwa ruangan dalam Masjidil Haram mampu menampung satu juta orang yang shalat, memang iya. Begitupun dengan halaman yang mengelilingi pintu-pintu masjid yang berjumlah sekitar 94 pintu (Ada yg mengatakan 126 termasuk pintu-pintu khususnya). Namun, jumlah orang yang ingin shalat di sana jauh melampaui kapasitas yang tersedia.

Walhasil, untuk mendapatkan tempat yang nyaman, Anda harus rela mendatanginya dua jam sebelum masuk waktu shalat 5 waktu. Terutama di hari-hari Ramadhan. Adapun untuk Jumatan, barangkali Anda harus mendatanginya 3 jam sebelumnya.

Jika tidak, Anda terpaksa berdesakan di gang-gang dalam masjid, sambil mencari-cari tempat, dan sebentar kemudian akan segera diusir petugas, “Thariiq…thariiq…!” “Kasih jalan…Kasih jalan” “Jangan berhenti di jalan!”

Masih beruntung jika Anda mendapatkan sela-sela tempat untuk sekedar duduk, sehingga saat iqamah Anda bisa langsung masuk di sela-sela shaf yang mungkin masih longgar untuk shalat. Namun tetap saja, Anda susah mendapatkan tempat sujud untuk tahiyatul masjid.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment