Jamaah shalat iedul Fithri rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, atas segala nikmat-Nya kita berkumpul untuk mengabdi kepada-Nya. Kita pantas gembira dan bersyukur, karena Allah menguatkan kita untuk menyelesaikan tugas selama ramadhan. Namun, di sisi lain kita pantas bersedih, karena telah lewat kesempatan emas dan peluang yang sangat menentukan baik buruknya catatan amal perbuatan kita di tahun ini.
Memang kita berharap, dengan shaum dan shalat malam di bulan Ramadhan, Allah mengampuni semua dosa kita yang telah lalu. Akan tetapi, adalah salah jika kita mengklaim diri telah bersih dari dosa.
فَلاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS an-Najm 32)
Para salafus shalih pendahulu kita, tak ada yang mengaku telah bersih dan suci dari dosa setiap kali keluar dari Ramadhan. Padahal amal kebaikan mereka lebih banyak dari amal shalih kita, keburukan yang mereka lakukan jauh lebih minim dari keburukan yang kita lakukan. Merekapun lebih banyak istighfar kepada Allah dari pada kita. Akan tetapi, mereka sangat khawatir, jikalau amal mereka tidak diterima oleh Allah. Karenanya, mereka terus berusaha mengoptimalkan seluruh potensi dan waktunya untuk berbuat kebaikan. Meskipun Ramadhan telah meninggalkan mereka. Inilah karakter orang-orang yang berlomba dalam kebaikan.
Aisyah pernah bertanya kepada Nabi tentang firman Allah,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka,” (QS al-Mukminun 60)
Aisyah bertanya, “Apakah mereka itu adalah orang yang minum khamr, mencuri dan berzina?” Yakni apakah mereka takut karena telah melakukan dosa-dosa?
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bukan wahai puteri ash-Shiddiq, bahkan mereka adalah orang-orang yang shaum, shalat, bersedekah, akan tetapi mereka takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Merekalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan,”
Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,
أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS al-Mukminun 61)
Seringkali kita terbuai dengan istilah ‘Iedul Fithri’ yang diartikan kembali suci. Lalu kita merasa puas dengan apa yang kita kerjakan dan merasa sudah tidak memiliki dosa lagi. Asumsi ini juga memberi peluang untuk melakukan dosa-dosa, karena toh nantinya terhapus otomatis dengan hadirnya ‘iedul fithri.’
Memaknai iedul fithri dengan kembali suci, perlu diteliti keabsahannya. Nabi saw mengartikan hari fihtri dengan hari berbuka. Sebagaimana hadits Nabi saw,
أَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ
“Adapun hari fithri adalah hari berbuka dari shaum kalian.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan yang lain)
Tidak tepat jika kata fithri dalam hadits tersebut diartikan suci, sehingga artinya, “Adapun hari suci adalah, hari suci kalian dari shaum.”
Jama’ah iedul fithri arsyadakumullah.
Continue reading →